Para mediang bertemu muka
Pada gambar
Mengenakan longtorso dan kebaya warna jingga tua
Warna bunglon
Memudar hilang berganti hitam
Seperti cakrawala
Keinginan dan harapan
Taman bermain
Ada sebuah cermin
Menggelisahkan begitu rupa
Tafsir mimpi
Mereka berjanji akan bertemu di pinggir hutan suatu malam
Mungkin karena itu
Banyak bayangan
Tapi kau belum mati
Malam yang memahami laramu
Tangismu masih tak menghabis
Airmatamu terlalu berat untuk pipimu yang ringan
Dan kau selalu lupa
Duduk manis yang ternyata sebentar saja
Menatap cermin secara lain
Penglihatanmu jatuh
Ngeri melihat wajah pecah
Melanggar ketertiban
Beralih pada pecahan kaca
Cermin yang digantung tinggi-tinggi
Cermin retak
Ada yang memanggil namamu
Dengan ringan ia bersuara
Dalam bahasa tak tertata
Kalian tahu
Langit hitam di luar sana
Bulan di belakang kepala
Meledakan rasa ingin tahu
Seperti jatuh tapi bukan ke bawah
Mereka menyebutnya ibu kota
Rute-rute menuju harapan
Di jalan Jakarta
Kelak kuburan
Orang-orang di trotoar
Bunyi klakson pekak
Sebentar lagi
Semesta hitam
Cahaya lampu-lampu
Masihkah bermakna
Memikirkan apa-apa
Luput dari maut
Ketika bahaya
Kian dekat
Nyala yang lebih terang
Negeri rahasia
Nusantara belum lagi dibayangkan
Matanya membuka
Beralas tanah
Dan bulan itu
Sepasang mata
Sebuah pulau baru
Rakyat datang berkumpul
Hikayat-hikayat lama
Negeri emas
Manusia-manusia primitif
Orang-orang Alifuru
Menari cakalele
Meninggalkan medan perang
Terjun ke kedalaman
Merencanakan sebuah akhir
Genggaman atas tanah
Menghayati pulang
Seperti menerobos masuk ke bawah tanah
Mungkin untuk ketiga kalinya
Tak pernah sampai
Merasai permukaan tanah
Selalu seperti itu
Begitu banyak
Rentetan panjang kalimat menyuruh
Koyak di sepanjang garis tak rapi
Benang merah melayang panjang
Menjelma bayangan
Kembali firasat aneh itu
Mengalir seperti sungai
Jatuh ke tanah
Bau asin samudera
Gambar ikan dan binatang laut
Terdengar tetes air dari keran
Sebuah pagi
Cerita yang nyaris tanpa kejadian apa-apa
Tanpa awal tanpa akhir
Tak ingin memastikan dugaan
Melepas kata antara sapa dan Tanya
Karena ingin percaya
Tak ingin mengira
Yang belum selesai
Seperti tak dimengerti namun diberkahi
Dari kamar masa kecilmu
Terdengar jawaban
Semacam teguran
Tersenyum lebar dengan gigi rapi
Yang lebih membingungkan
Ia yang bertakhta di atas tata
Mereka datang dengan setelan rapi
Memisahkan hati dari kepala
Bersiasat di dalam rapat-rapat
Keluar dengan lesu
Selalu datang satu-satu
Sejenak ada diam
Percakapan yang tak tentu arah
Makan enak, bebas lemak
Tersimpan dalam setiap sel
Apa-apa
Warna-warna
Setengah tak menanti
Bersandar dan berguman
Udara sesak dengan syair-syair
Meninggalkan debu dan aus
Habis
Seperti memecah kode rahasia
Tak jadi putus asa
Tersadar dari sebuah ingin
Sembilan digit sempurna
Bicara tergesa sambil berjalan
Bersyair lalu bersumpah-sumpah
Melepas rasa manis terakhir
Dosa segigitan
Menjulurkan lidah
Dalam alur teratur
Bahasa benak sendiri
Sebuah rasa
Merasa penting
Membuai dengan senang
Aroma hangat
Pagi sempurna
Protesmu
Cahaya lilin pada cermin, mengali lipat jumlah sebenarnya
Entah berapa jumlah mereka
Tampaknya rasional sekali
Refleksimu tampak membesar
Nyatanya tak seberat tampaknya
Berkelebatan cepat seperti selembar selendang
Bayangan mengabur di sekelilingmu
Terjadi demikian cepat
Ada wewangian lain yang tiba-tiba menggenang di udara
Benakmu memusar
Sesaat merasa terpenuhi
Kemudian adalah masa penyangkalan
Dengan bahasa suku dan segala rupa dialek
Hanya ada baku hantam kata-kata
Sesaat menatapnya, sesaat dalam sihir lama
Sebuah wajah di antara wajah-wajah asing
Menatap celah menganga dengan mata ternganga
Berhenti sejenak
Tertawa hampir bahagia
Melangkah dengan senyum aneh di wajah
Ada gembira dalam semua bacaan menyedihkan
Begitu banyak mungkin
Hawa yang telah terpikat pohon pengetahuan
Kebun cengkih di kaki gunung
Terlalu lelah untuk sebuah senyum
Hanya ada suara serangga dan desau angin
Ada kesadaran yang bergerak
Menatap kepastian dalam gerakan terbang
Kunang-kunang pun merahsiakan pergi dan kawinya
Sebelum malam ini berpisah
Beberapa cerita tak berubah
Di dalam hitam matanya
Seulas senyum samar, misterius tak diniatkan
Membawamu jauh menuju angin
Gunung api yang meledak
Rahasia yang ada di semesta
Jika bertemu
Suatu saat di atas tanah
Di bawah bulan
Kau merinding
Lebih dari kehendak kata
Yang datang tiba-tiba
Dan aku seperti sia-sia saja bertanya
Di akhir hari
Mengingatkanku pada cakrawala
Hitam malam telah menelan garisnya
Pergi, mengawali, mengakhiri sendiri
Mengucapkan selamat tinggal
Tersenyum cerah
Jerit pecah di udara
Jerit bayi
Masuk ke dalam tanah
Ke kamar
Mendekati
Menjelma manis rupawan menggemaskan
Seekor fauna hasil fantasi manusia
Bagai akan bicara rahasia
Untuk kehidupan
Sebuah mimpi awal tahun
Naik menerjang ke udara
Mencari tempat teduh
Sebuah ingatan lama
Di sebuah malam
Bintang bukanlah segi lima
Seperti kisah-kisah lain
Kekosongn yang disebut-sebut
Tampak begitu lucu malam ini
Membuai di dada
Firasat datangnya kejatuhan
Mungkin sebuah balas dendam
Hampir akhir tahun
Di tanjung utara pulau itu
Pulau-pulau berjatuhan satu-satu
Waktu panjang bagai tanpa akhir
Seperti ribuan kehidupan
Tak mesti begitu
Sepanjang jalan
Tentang penguakan yang dikiranya
Semua itu lewat
Segalanya terlambat
Takdir yang seperti rangkaian kebetulan adalah bukan
Namun malam selalu terhitam
Semua seperti tertuturkan
Mempertanyakan ketidaklogisan dunia
Seakan ada tombol yang tiba-tiba dinyalakan
Petir pecah bercabang-cabang
Seperti ingin menggapai
Perihal perasaan-pikiran-kata
Apa-apa tentang yang dicintai
Paradox tak manis membingungkan
Seperti iblis yang mesti di surga
Menuntaskan sebuah takdir
Segala yang rumit menjelma sederhana
Tafsir atas tafsir siapa tahu
Karena makna belum mengikuti
Manusia pembaca
Batas-batas mengabur tak jelas
Untuk sebuah dunia
Pada kelopak bunga
Bergerak dalam alur tak jelas
Dalam cerita ini
Apalah arti orang dan bukan orang
Barisan pohon tinggi
Sekelompok jamur, semak ilalang
Sebatang kelapa
Bicara dengan suara rendah
Menatap langit
Menjawab apa-apa
Meledak menjadi semesta
Bunyi terdiam
Nun jauh di depan
Dari pelabuhan
Hanya sebuah mungkin dari sekian mungkin
Di dekat cakrawala
Mesti ada mimpi
Sisa embun jatuh bebas ke tanah
Momen membeku dalam sebuah ruang lukisan
Sebuah penglihatan
Hanya ada kau sendiri
Membedakan medan-medan yang kau lewati
Semedan tanah
Jalan-jalan yang telah dibentangkan
Untuk meleluasakan pilihan
Menggeleng dalam gerakan pelan
Mencoba berpaling
Sebelum jatuh
Saling memberi jalan
Dalam gaya yang sama
Melihat apa yang datang
Sebuah dugaan
Menatap tanah dengan bimbang
Secercah cahaya
Mengakhiri sebuah alkisah
Minggu, 15 September 2013
Hikayat Di Kemudian Hari

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar